PRASANGKA,DISKRIMINASI,DAN
INTEGERASI MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
Segala
puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya
makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini disusun agar kita dapat
memperluas wawasan kita tentang Ilmu Sosial Dasar.
Makalah
ini dibuat dalam rangka pembelajaran mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (softskil).
Pemahaman tentang manusia dan hal – hal yang berkaitan dengannya sangat
diperlukan, dengan suatu harapan suatu masalah dapat diselesaikan dan dihindari
kelak, sekaligus menambah wawasan bagi kita semua.
Makalah
ini, tentunya masih jauh dari kesempurnaan, karena penulis juga masih dalam
tahap pembelajaran. Oleh karena itu arahan, koreksi dan saran, sangat penulis
harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sikap dan Prasangka
Prasangka merupakan sikap sosial, yaitu
kecenderungan (yang bersifat perasaan dan pandangan) untuk berespon (positif/
negatif) terhadap orang, objek, atau situasi. Dalam sikap terkandung suatu
penilaian emosional yang dapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta,
benci, dan sebagainya. Kaena dalam sikap terdapat suatu kecenderungan
berespons, maka seseorang mempunyai sikap yang umumnya diketahui perilaku atau
tindakan apa yang akan dilakukannya bila bertemu dengan objeknya.
1. Pembentukan sikap
Sikap merupakan reaksi atao respon seseorang
terhadap suatu obyek tertentu yang mengandung suatu pemikiran baik atau buruk,
setuju atautidak setuju karena adanya stimulus dari luar yang mengakibatkan
suatu tindakan tertentu.
Sikap terbentuk karena beberapa hal diantaranya
adalah;
a. Terbentuk
karena factor genetic
Terbentuknya sikap antara individu yang satu dengan
yang lain pasti berbeda-beda, ini di sebabkan karena factor genetic dan
pola hidup yang berbeda-beda pula.
b. Terbentuk
karena adanya pengelaman.
Kerena sikap yang berasal dari pengalaman sehingga
sikap di upayakan dengan cara pendidikan , pelatihan, dan sebagainya.
c. Terbentuknya
karena norma-norma yang telah di hayati sebelumnya.
d. Terbentuknya karena meniru sikap
di pihak lain yang pernah di ketahuinya.
e. Karena adanya interaksi dengan
obyek tertentu baik interaksi dalam kelompok maupum dari luar.
2. Fungsi sikap
a. Fungsi instrumental
Dikatakan demikian karena sikap yang kita pegang
mempunyai alas an untuk mendapatkan suatu manfaat yang semata-mata
mengekspresikan keinginan kita untuk mendapatkan hadiah dan menghindari
hukuman.
b. Fungsi nilai ekspresif
Sikap yang mengspresikan atas mencerminkan konsep
diri kita terhadap suatu obyek tertentu.
c. Fungsi perubahan ego
Sikap yang berfungsi melindungi kita dari kecemasan
atau ancaman bagai harga diri kita.
d. Fungsi penyesuaian social
Dengan sikap tertentu kita dapat menjadi anggota
dari suatu komunitas tertentu.
3. Pembentukan Prasangka
Seorang individu atau kelompak yang mempunyai
prasangka terhadap individu/kelompok lain akan memandang segala fakta yang baik
akan menjdi propaganda.
Terbentuknya prasangka itu sendiri
terbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir dan sama
halnya dengan sikap. Karna terbentuknya pada masa perkembangan seseorang maka
orang tua di anggap guru utama Prasangka pada saat seseorang masih usia dini.
Selain itu teman juga seseorang yang mempengarui prasangaka pada saat dalam
usia sekolah.dan lingkunngan sekitar menjadi pengaruh prasangka pada usia
dewasa dan tua.
Selain itu hal yang dapat mempengarui terbentuknya
prasangka pada seseorang adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan antar kelompok/ perbedaan antar ras
atau etnis.
Prasaangka yang bersumber dari perbedaan etnis dapat
di temukan pada masarakat heterogen. Yang mempunyai latar kebudayaan yang
berbeda-beda. Sedangkan yang ber sumber dari perbedaan ras dapat di temukan
dalam masyarakat yang multirasial seperti amerika dan negara-negara eropa
lainya.
b. Perbedaan idiologi
Ini terjadi pada masarakat di Negara yang memiliki
idiologi yang kuat terhadap idiologi lain yang menjadi lawanya.
c. Perbedaan yang bersumber dari kejadian historis.
Contohnya:prasangka terhadap orang yang berkulit
putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berkar dari sejarah pebudakan
orang-orang negro pada 300san tahun yang lalu. Walupun sekarang orang-orang
negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap
orangt negro sebagai manusua pemalas,bvodoh dll.
d. Kesenjangan social kelompok mayoritas tehadap
kelompok minoritas.
4. Hal hal yang
mempengaruhi perubahan sikap
1. Karateristik sistem sikap
a. Sikap extreme
Yaitu sikap yang sulit diubah baik dalam perubahan
yag kongruen maupun yang inkongruen. Perubahan kongruen adalah perubahan yang
searah yakni bertambahnya drajat kepositifan atau kenegatifan dari sikap
semula. Sedangkan perubahan inkongruen adalah perubahan sikap kearah yang
berlawanan. Yang semula positif menjadi negative dan sebagainya.
b. Multifleksitas
Yaitu suatu sikap yang mudah diubah secara kongruen
tetapi sulit diubah secara inkongruen atau sebaliknya
c. Konsistensi
Yaitu sikap yang stabil karena adanya komponen yang
saling mendukung. Sikap ini mudah dirubah secara kongruen, sedangkan sikap yang
tidak stabil lebih mudah diubah secara inkongruen.
d. Interconnectedness
Yaitu keterikatan suatu sikap dengan sikap lain yang
saling berhubungan. Contohnya ketaaatan seseorang terhadap agama yang dianutnya
dikaitkan dengan kencintaan yang begitu mendalam kepada orang tuanya yang telah
meninggal karena agama yang sama. Sikap ini sulit diubah scara inkongruen.
2. Kepribadian individu
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh
aspek aspek kepribadian. Adapun aspek aspek kepribadian tersebut adalah:
a. Intelegensi
Tingkat pemahaman seseorang dalam memahami suatu
informasi sangat mempengaruhi sikapnya.
b. General persuasibility
Adalah kesiapan seseorang untuk menerima pengaruh
social tanpa memandang komunikatornya, topic, media, dan komunikasinya.
c. Self defensiveness
Yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan
sikapnya demi mempertahankan hargadirinya.
3. Afisiliasi kelompok
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh
dukungan kelompok terhadap dirinya. Seseorang yang telah memegang teguh norma
kelompoknya akan sulit diubah sikapnya secara inkongkruen tetapi lebih mudah
dirubah secara kongruen dengan cara diberi arahan dan pengetahuan atau pengalaman
oleh kelompoknya
5. Komponen Sikap
a. Komponen
kognitif: proses evaluatif (membandingkan, menganalisis,mendayagunakan
pengetahuan yang ada untuk memberikan sesuaturangsang) perubahan pada ranah ini
akan mempengeruhi sikap
b. Komponen
Afektif: perasaan senang, tidak senang dan perasaanemosional lain sebagai
akibat dari proses evaluatif yang dilakukan
c. Komponen
Perilaku: sikap selalu diikuti dengan kecenderungan untukberpoila perilaku
tertentu (disonansi sikap: ketidakcocokan perilaku seseorang dengan
sikapnya
B. Kategorisasi dan
Stereotipe
Kategorisasi adalah proses pengambilan keputusan
dengan jalan mengelompokkan benda ke dalam kelompok tertentu. Kategorisasi
pada dasarnya merupakan proses kognitif yang netral; artinya, menetapkan benda
dalam kategori tertentu; individu tidak ikut menilai. Kalaupun memberikan
penilaian, baik langsung maupun tidak langsung melalui proses pelaziman
(conditioning), kemungkinan besar gagasan atau gambaran negative akan melekat
atau menetap pada orang tersebut.
Stereotipe adalah tanggapan atau gambaran tertentu
mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang/ golongan lain yang bercorak
negatif akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang subjektif.
Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan
(stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit
informasi dan membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan mereka dalam
suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan
orang-orang ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai
orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang sesuai,
ketimbang berdasarkan karakteristik individual mereka. Banyak definisi
stereotype yang dikemukakan oleh para ahli, kalau boleh disimpulkan, stereotip
adalah kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan
perbedaan-perbedaan individual. Kelimpik-kelompok ini mencakup : kelompok ras,
kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan
penampilan fisik tertentu. Stereotip tidak memandang individu-individu dalam
kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.
Contoh stereotip :
Ø Laki-laki berpikir logis
Ø Wanita bersikap mental
Ø Orang berkaca mata minus jenius
Ø Orang batak kasar
Ø Orang padang pelit
Ø Orang jawa halus-pembawaan
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya stereotip
antara lain:
1. Sebagai
manusia kita cenderung membagi dunia ini ke dalam dua kategori : kita dan
mereka. Karena kita kekurangan informasi mengenai mereka, kita cenderung
menyamaratakan mereka semua, dan mengangap mereka sebagai homogen.
2. Stereotip
tampaknya bersumber dari kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognitif
sedikit mungkin dalam berpikir mengenai orang lain. Dengan kata lain, stereotip
menyebabkan persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu disekitar
kita.
Stereotip dapat membuat informasi yang kita terima
tidak akurat. Pada umumnya, stereotip bersifat negative. Stereotip tidak
berbahaya sejauh kita simpan di kepala kita, namun akan bahaya bila diaktifkan
dalam hubungan manusia. Stereotip dapat menghambat atau mengganggu komunikasi
itu sendiri. Contoh dalam konteks komunikasi lintas budaya misalnya, kita
melakukan persepsi stereotip terhadap orang padang bahwa orang padang itu
pelit. Lewat stereotip itu, kita memperlakukan semua orang padang sebagai orang
yang pelit tanpa memandang pribadi atau keunikan masing-masing individu. Orang
padang yang kita perlakukan sebagai orang yang pelit mungkin akan tersinggung
dan memungkinkan munculnya konflik. Atau misal stereotip terhadap orang batak
bahwa mereka itu kasar. Dengan adanya persepsi itu, kita yang tidak suka
terhadap orang yang kasar selalu berusaha menghindari komunikasi dengan orang
batak sehingga komunikasi dengan orang batak tidak dapat berlangsung lancar dan
efektif. Stereotip terhadap orang afrika-negro yang negatif menyebabkan mereka terbiasa
diperlakukan sebagai kriminal. Contohnya, di Amerika bila seseorang (kulit
putih) kebetulan berada satu tempat/ruang dengan orang negro mereka akan ,
secara refleks, melindungi tas atau barang mereka, karena menggangap orang
negro tersebut adalah seorang pencuri. Namun, belakangan, stereotip terhadap
orang negro sudah mulai berkurang terleih sejak presiden amerika saat ini juga
keturunan negro. Orang Indonesia sendiri di mata dunia juga sering
distereotipkan sebagai orang-orang ’anarkis’ , ’bodoh’, konservatif-primitif,
dll.
C. Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka adalah pengambilan keputusan tanpa
penelitian dan pertimbangan yang cermat, tergesa-gesa atau tidak matang karena
kurangnya pengetahuan, pengertian, dan fakta kehidupan yang menunjukkan pada
sikap ketidakadilan.
Diskriminasi adalah perlakuan yagn sifatnya
membeda-bedakan antara sesame warga Negara karena pengaruh keturunan, suku,
warna kulit dan agama
D. Sebab-sebab Terjadinya
Prasangka
Prasangka merupakan salah satu fenomena yang hanya
bisa ditemui dalam kehidupan sosial. Munculnya prasangka merupakan akibat dari
adanya kontak-kontak sosial antara berbagai individu di dalam masyarakat.
Seseorang tidak mungkin berprasangka bila tidak pernah mengalami kontak sosial
dengan individu lain. Akan tetapi prasangka tidak semata-mata dimunculkan oleh
faktor sosial. Faktor kepribadian turut berperan dalam menciptakan apakah
seseorang mudah berprasangka atau tidak. Walaupun faktor sosial sangat menunjang
untuk menciptakan prasangka, belum tentu seseorang akan berprasangka karena
masih tergantung pada tipe kepribadian yang dimiliki, apakah ia memiliki tipe
kepribadian berkecenderungan berprasangka atau tidak. Lalu manakah yang lebih
penting faktor sosial atau faktor kepribadian dalam menciptakan prasangka?
Jawabannya bisa keduanya sama penting atau bisa salah satu lebih penting.
Apabila tekanan dalam melihat prasangka adalah konteks sosialnya, tentu saja
faktor sosial merupakan faktor terpenting. Sedangkan bila konteks individu yang
ditekankan, maka faktor individual bisa jadi dinilai lebih penting.
Ada lima pendekatan dalam menentukan sebab
terjadinya prasangka, yaitu sebagai berikut.
a. Pendekatan
Historis
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu
menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam
kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah).
b. Pendekatan
Sosiokultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok,
stigma perkantoran dan sosialisasi.
c. Pendekatan
Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian
sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
d. Pendekatan
Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu
memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan
prasangka.
e. Pendekatan
Naïve
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek
prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.
E. Mengatasi dan
Mengurangi Prasangka
Usaha untuk mengatasi dan mengurangi prasangka yaitu
sebagai berikut:
1. Perbaikan
kondisi sosial ekonomi
2. Melalui
pendidikan anak
3. Mengadakan
kontak di antara dua kelompok yang berprasangka
4. Permainan
peran
5. Perluasan
kesempatan belajar
6. Sikap terbuka
dan sikap lapang
7. Memutuskan
siklus prasangka: belajar tidak membenci karena dapat membahayakan diri sendiri
dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua dan orang dewasa lainnya untuk
melatih anak menjadi fanatic.
8. Berinteraksi
langsung dengan kelompok berbeda:
i) contact
hypothesis—pandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai
kelompok sosial dapat efektif mengurangi prasangka diantara mereka. Usaha-usaha
tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut terjadi di bawah
kondisi-kondisi tertentu.
ii) extended
contact hypothesis—sebuah pandangan yang menyatakan bahwa hanya dengan
mengetahui bahwa anggota kelompoknya sendiri telah membentuk persahabatan
dengan anggota kelompokout-group dapat mengurangi prasangka terhadap
kelompok tersebut.
9. Kategorisasi
ulang batas antara “kita” dan “mereka” hasil dari kategorisasi ulang ini, orang
yang sebelumnya dipandang sebagai anggota out-group sekarang dapat
dipandang sebagai bagian dari in-group.
10. Intervensi kognitif: memotivasi orang
lain untuk tidak berprasangka, pelatihan (belajar untuk mengatakan “tidak” pada
stereotype).
11. Pengaruh social untuk mengurangi
prasangka.
F. Prasangka dan
Integrasi Masyarakat
Integrasi adalah kerja sama dari seluruh anggota
masyarakat secara keseluruhan, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga
dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan
persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama-sama
dijunjung tinggi.
Bentuk-bentuk akomodatif yang dapat
mengurangi konflik sebagai akibat dari prasangka, meliputi empat dasar sistem,
yaitu:
a. Sistem
budaya, seperti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1994
b. Sistem sosial,
seperti kolektif-kolektif sosial dalam segala bidang
c. Sistem
kepribadian, terwujud sebagai pola-pola penglihatan (persepsi), perasaan,
pola-pola penilaian yang dianggap pola-pola keindonesian
d. Sistem organik
jasmaniah, di mana nasion tidak didasarkan atas persamaan ras.
Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi,
asimilasi dan berkuranmgnya sikap- sikap prasangka di antara anggota
msyarakat secara keseluruhan. Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu
mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi
konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem
yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan. Oleh karena
itu untuk mewujudkan integrasi bangsa pada bangsa yang majemuk dilakukan dengan
mengatasi atau mengurangi prasangka.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme
integrasi sosial dalam masyarakat senantiasa terkait dengan dua landasan
berikut :
- Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di
atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota
masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental
(mendasar)
- Masyarakat terintegrasi karena berbagai
anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial
(cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan
sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya
loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap
berbagai kesatuan sosial.
Sehingga
definisi dari integrasi sosial dalam masyarakat dapat diartikan sebagai
kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga,
lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga menghasilkan
persenyawaan-persenyawaan, berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama
dijunjung tinggi. Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan
berkuranmgnya sikap-sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara
keseluruhan.
Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan.
Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan.
Integrasi
sosial dalam masyarakat dapat dicapai apabila unsur-unsur sosial saling
berinteraksi.Selain itu norma-norma sosial dan adat istiadat yang baik turut
menjadi penunjang untuk mencapai integrasi sosial tersebut. Hal ini dikarenakan
norma-norma sosial dan adat istiadat merupakan unsur yang mengatur perilaku
dengan mengadakan tuntutan mengenai bagaimana orang harus bertingkah laku.
Namun demikian tercapainya integrasi sosial dalam masyarakat memerlukan pengorbananm, baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari pengorbanan adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran dan penilaian di dalam masyarakat tersebut. Maka dari itu norma sosial sebagai acuan bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman untuk seorang bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat.
Adapun faktor - faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi sosial dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
-Faktor internal: kesadaran diri sebagai makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, dan semangat gotong royong.
Namun demikian tercapainya integrasi sosial dalam masyarakat memerlukan pengorbananm, baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari pengorbanan adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran dan penilaian di dalam masyarakat tersebut. Maka dari itu norma sosial sebagai acuan bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman untuk seorang bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat.
Adapun faktor - faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi sosial dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
-Faktor internal: kesadaran diri sebagai makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, dan semangat gotong royong.
-Faktor eksternal: tuntutan perkembangan zaman,
persamaan kebudayaan, terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan
bersama, persaman visi, misi, dan tujuan, sikap toleransi, adanya kosensus
nilai, dan adanya tantangan dari luar
Penutup
Dengan ini saya mengucapkan terimaksih kepada semua
pihak atas selesainya tugas saya mudah mudahan apa yang saya jelaskan tentang
penduduk, masyarakat, kebudayaan semoga
dapat berguna untuk orang banyak dan dapat membantu untuk generasi selanjutnya
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar