Cara membina Pramuka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hubungan antara Pembina Pramuka dan peserta didiknya
merupakan hubungan yang khas, yaitu setiap Pembina Pramuka wajib
memperhatikan perkembangan mitra didiknya secara pribadi agar perhatian terhadap
pembinaanya dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan kepramukaan.
Membina pramuka merupakan kegiatan memperkenalkan,
menumbuhkan, dan mengembangkan:
a. kepribadian (kualitas nilai),
b. pengetahuan dan keterampilan,
c. minat, keinginan, bakat serta
kemampuan, peserta didik sehingga menjadi manusia yang: kreatif, inovatif,
pelopor dan mandiri.
Ini membuat seorang Pembina pramuka memililiki peran, tugas
dan tanggung jawab yang sangat besar dalam proses pembinaan itu.
Hanya saja membina peserta didik, khususnya anggota muda
pramuka tidaklah bisa disamakan, sebab anggota muda pramuka terdiri dari usia
yang berbeda-beda. Yakni, Pramuka Siaga (berusia kira-kira 7 – 10 tahun),
Pramuka Penggalang (berusia kira-kira 11 – 15), Pramuka Penegak (berusia
kira-kira 16 – 20 tahun)serta dilambangkan dengan warna kuning dan
Pramuka Pandega (berusia kira-kira 21 – 25 tahun). Dari perbedaan itu sebelum
mulai membina, seorang Pembina Pramuka harus mengetahui sistem pembinaan dalam
pramuka, yakni dikenal dengan Sistem Among. Mengetahui tata pengelolaaan setiap
Satuan Pramuka dan memahami peran tugas, serta tanggung jawab seorang Pembina
pramuka.
Oleh karena itu, pada makalah ini kami akan membahas tentang
tata cara membina anggota muda pramuka, yakni Pramuka Siaga, Pramuka
Penggalang, Pramuka Penegak, dan Pramuka Pandega.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dari latar belakang di atas
adalah sebagai berikut.
1) Bagaimanakah cara membina dengan sistem
among?
2) Bagaimanakah cara mengelola satuan
pramuka ?
3) Apa saja peran tugas dan tanggung jawab
Pembina Pramuka?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1) Mendiskripsikan cara membina
dengan Sistem Among.
2) Mendiskripsikan cara
mengelola Satuan Pramuka.
3) Mendiskripsikan peran tugas dan tanggung
jawab Pembina Pramuka.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1) Dapat mendiskripsikan cara membina
dengan Sistem Among.
2) Dapat mendiskripsikan cara mengelola
Satuan Pramuka.
3) Dapat mendiskripsikan peran tugas
dan tanggung jawab Pembina Pramuka.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Among
Sistem Among adalah cara pelaksanaan pendidikan di dalam
gerakan pramuka. Sistem among merupakan hasil pemikiran Raden Mas Suwardi
Suryaningrat atau yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan
dan pendiri Perguruan Taman Siswa.
Sistem Among
merupakan pendidikan yang dilaksanakan dengan cara memberikan kebebasan kepada
peserta didik untuk dapat bergerak dan bertindak dengan leluasa, dengan
sejauh mungkin menghidari unsur-unsur perintah keharusan, paksaan ,
dengan maksud untuk menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri,
kreativitas dan aktivitas sesuai dengan aspirasi peserta didik.
Sistem Among
mewajibkan Pembina Pramuka melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai
berikut :
1) "Ing ngarso sung tulodo",
maksudnya di depan menjadi teladan.
2) "Ing madya mangun korso", maksudnya
di tengah-tengah mereka Pembina membangun kemauan.
3) "Tut wuri handayani",
maksudnya dari belakang Pembina memberi daya/kekuatan atau dorongan dan
pengaruh yang baik kearah kemandirian.
Dalam melaksanakan tugasnya Pembina Pramuka wajib
bersikap dan berperilaku:
1) Cinta kasih kejujuran, keadilan,
kepantasan, keprasahajaan/kesederhanaan, kesanggupan berkorban, dan
kesetiakawanan sosial.
2) Disiplin disertai inisiatif.
3) Bertanggungjawab terhadap diri sendiri,
sesama manusia, negara dan bangsa, alam dan lingkungan hidup, serta
bertanggungjawab kepada Tuhan yang Maha Esa.
Sistem Among dalam Gerakan Pramuka, memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk mengembangkan pribadinya, bakatnya, kemampuannya,
cita-citanya. Pembina Pramuka sebagai Pamong hanyalah menjaga, membenarkan,
meluruskan, medorong, memberi motivasi tempat berkonsultasi dan bertanya.
Peserta didik harus diperlakukan dan dihargai sebagai subjek
pendidikan, bukan hanya sebagai objek pendidikan belaka yang hanya bergiat
kalau disuruh pembinanya tetapi mereka diberi kebebasan untuk bergerak dan
bertindak dengan leluasa agar tumbuh rasa percaya diri, agar berkembang
kreativitasnya sesuai dengan aspirasi mereka.
Kegiatan kepramukaan dengan menggunakan sistem among
dilaksanakan dalam
bentuk kegiatan nyata dengan contoh - contoh nyata, dimengerti dan dihayati,
atas dasar minat dan karsa para peserta didik Pembina Pramuka harus mampu
menjadi contoh/teladan peserta didiknya.
Sistem Among harus digunakan secara terpadu, tidak
terpisah-pisah satu dengan lainnya saling berkaitan oleh karena itu bagi semua
golongan peserta didik ( S, G, T, D ) diberikan keteladanan, daya
kreasi dan dorongan.
Peserta didik dibina sesuai dengan minatnya untuk bekal
mengabdi dan berkarya, melalui proses:
1) “ Learning by doing”, belajar sambil
bekerja.
2) “ Learning by teaching”, bekerja sambil
mengajar.
3) “Learning to live together” belajar
untuk bisa hidup bersama.
4) “Learning to earn”, belajar mencari
penghasilan.
5) “Earning to live”, penghasilan untuk
hidup.
6) “ Living to serve”, kehidupan untuk
bekal mengabdi.
7) “Learning to be”, belajar untuk menjadi
dirinya sendiri.
2.2 Cara Membina Satuan
1) Untuk dapat membina dengan baik maka
seseorang harus mengenal, mengerti dan memahami
hal-hal sebagai berikut :
a. Siapa yang dibinanya, yakni sifat-sifat
dasarnya, dan latar belakang kehidupannya.
b. Jumlah orang yang akan dibinanya.
Catatan: Jumlah satu barung yang ideal = 6 orang; satu perindukan = 18 – 24
orang. Jumlah satu regu ideal = 6 – 8 anak. Jumlah satu pasukan = 24 – 32 anak.
Jumlah satu sangga yang ideal = 4 – 8 orang. Jumlah satu ambalan = 12 – 32
orang. Satu Racana Pandega yang ideal paling banyak jumlahnya 30 orang.
c. Membina peserta didik yang lebih muda
usianya akan lebih memerlukan perhatian, kesabaran, ketekunan, dan contoh yang
lebih nyata. Seorang Pembina pramuka Siaga idealnya hanya bisa membina 6
sampai dengan 10 orang. Seorang Pembina Penggalang bisa membina 7 sampai 10
orang, tetapi apabila ia memang seorang Pembina yang andal maka ia bisa membina
Penggalang maksimal 20 orang, sebagaimana yang dilakukan oleh baden Powell
ketika pertama kali mengajak penggalangnya berkemah di Brownsea Island. Seorang
Pembina Penegak dan Pandega dapat membina 8 sampai dengan 36 orang. Namun
demikian apabila berpedoman pada rasio jumlah kelompok peserta didik dengan
Pembina pendamping dalam kegiatan atas dasar jumlah anggota Pramuka dalam
barung, regu, sangga, dan rekanya, maka seorang Pembina Pramuka dapat membina 1
barung, satu regu, atau satu sangga saja, sedangkan pada anggota Pramuka
Pandega seorang Pembina dapat membina satu Racana.
d. Membina peserta didik harus didasarkan pada
satuan terpisah, yakni Pembina putra hanya boleh membina anggota muda pramuka
putra, Pembina putri hanya boleh membina anggota muda pramuka putri – kecuali
Pembina Siaga putrid boleh membina anggota muda Siaga putra.
e. Pembinaan harus menarik minat peserta didik.
Di sini materi pembinaan dapat dibungkus dengan lagu, tari, gerak, permainan,
perlombaan, ceritera, penugasan, diskusi, seminar, loka-karya, dan bakti yang
sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik.
2) Mengenal sifat dasar Pramuka
Siaga
Adapun sifat-sifat dasar
dari Pramuka Siaga adalah sebagai berikut:
a. Senang meniru
b. Senang berdendang, menari dan bernyanyi
c. Suka dipuji, mudah merajuk
d. Senang menceriterakan dan mengadukan apa
yang diketahui dan dialaminya.
e. Rata-rata masih manja
f. Suka berbekal
g. Sangat senang bermain
3) Cara menghadapi Pramuka Siaga.
Adapun cara membina Pramuka Siaga adalah
sebagai berikut.
a. Dilakukan dengan
penuh kasih sayang dan lemah lembut.
b. Membina Siaga adalah phase awal dalam
pendidikan maka sifat-sifat Pembina Siaga yang tidak tidak bisa dicontoh
oleh anak usia Siaga harus tidak dimunculkan di permukaan. Misalnya Pembina
merokok, suka membentak, berkata agak jorok, dsb.
c. Materi pembinaan pramuka Siaga banyak
dibungkus, sehingga menarik (misalnya menceriterakan sifat-sifat kepahlawanan
yang perlu dicontoh oleh setiap orang dengan sosio drama).
d. Sesuatu yang khayal, baik untuk mempuk
imajinasi Siaga, tetapi jangan dilebih-lebihkan. Ceritera tentang fabel,
farabel baik pula untuk Siaga. Dalam abad modern ini baik pula apabila
menggunakan imajinasi tersebut dipadukan dengan teknologi.
e. Permainan perang-perangan tidakcocok
untuk kejiwaan Siaga.
f. Siaga harus sudah diperkenalkan
secara “nyata” bagaimana setiap hari berbuat kebaikan. Baik dalam latihan,
maupun melalui pesan Pembina untuk melaksanakannya di rumah.
g. Siaga diperkenalkan aturan-aturan
keluarga, dan cara-cara yang baik tentang bagaimana mematuhi ayah ibundanya.
h. Untuk melatih kreativitas Siaga (otak
belahan kanan), maka akan sangat baik mereka ditugasi membuat lagu sederhana (jinggle),
tarian, menulis pengalaman, atau mengarang, atau membuat yel-yel yang
menyemarakkan kasih sayang.
i. Kehidupan Siaga itu ada di perindukan.
j. Pembina lebih banyak “ Ing ngarso sung tulodo”
4) Sifat-sifat dasar Pramuka Penggalang.
Adapun sifat-sifat pramuka penggalang
adalah sebagai berikut.
a. Sebagian sifat-sifat Siaga masih
ada terbawa (variatif tergantung masing- masing anak).
b. Senang bergerak, senang
mengembara.
c. Usil, lincah, senang mencoba-coba.
d. Mulai menyukai atau ingin dekat dengan
lawan jenis.
e. Suka dengan sifat-sifat kepahlawanan.
f. Suara sudah mulai pecah/ parau bagi penggalang
putra.
5) Cara membina pramuka Penggalang.
Adapun cara membina Pramuka Pengggalang adalah sebagai
berikut.
a. Dapat menggunakan sebagian cara-cara dalam
membina Siaga (sifatnya situasional).
b. Kegiatan yang menantang, pengembaraan (hiking,
climbing, camping, rowing, rafting, orientering) paling disukai penggalang.
Namun demikian harus dipersiapkan dengan teliti faktor keamanannya, dan tidak
boleh terlalu sering dilakukan.
c. Kegiatan yang mengacu kedisiplinan sangat
penting diberikan (misalnya berjenis-jenis PBB dan upacara).
d. Rewards dan punishment mutlak harus
dilakukan, dan ditegakkan.
e. Kehidupan penggalang ada di Regu, oleh karena
itu kekompakan, kreativitas, dan disiplin beregu harus dipelihara.
f. Pembina penggalang tidak boleh seenaknya
membuat acara latihan menurut keinginannya sendiri, tetapi harus tahu kebutuhan
penggalang, dan bertanya kepada mereka latihan apa yang diinginkan (ask the
boys), walaupun ketentuan ada di tangan Pembina, karena Pembina sangat tahu
akan dibawa ke mana arahnya.
g. Setiap kegiatan yang menarik tujuan akhirnya
adalah pembentukan karakter, oleh karena itu Pembina tidak boleh melupakan hal
tersebut, untuk senantiasa memberikan simpulan atau pembulatan materi latihan
ke dalam nilai-nilai yang didasarkan atas penerapan satya dan darmanya.
h. Pembina lebih banyak “ing madyo mangun
karso” (di tengah-tengah membangkitkan kehendak & semangat
belajar/ bekerja).
6) Sifat-sifat dasar Pramuka Penegak.
Adapun sifat-sifat dasar dari Pramuka Penegak adalah
sebagai berikut.
a. Mulai memasuki
masa sosial (Kohnstamn).
b. Anak Penegak mulai
mencari identitas/ jati diri
c. Stabilitas
emosionalnya belum mantap (mudah terprofokasi, mudah berubah).
d. Gemar pada kenyataan,
menjunjung tinggi realitas.
e. Sudah mengenal
Cinta – agresif.
f. Kemauan kuat,
sulit dicegah, apabila tidak melewati kesadaran rasionalnya.
g. Senang menyelesaikan
persoalan dengan cepat, kadang-kadang melalui kekuatan fisik.
7) Cara membina Pramuka Penegak.
Adapun cara membina Pramuka Penegak adalah
sebagai berikut.
a. Perangkat struktur kepenegakan
ditertibkan, bila belum ada dibentuk lebih dahulu. Dewan Ambalan, dibentuk
dengan benar, tidak main tunjuk.
b. Dimulai bertanggung-jawab atas keputusan
musyawarah, dan menjalankan keputusan Dewan Ambalan.
c. Keinginan Penegak yang kuat tidak
dipatahkan, tetapi dijalurkan (on the track).
d. Memberikan kondisi lingkungan yang baik.
e. Pada tingkat Bantara, Penegak mulai
dikondisikan untuk memperbaiki lingkungan yang kurang baik, semampunya.
f. Pada tingkat Laksana, Penegak dikondisikan untuk
mengembangkan lingkungan ke arah yang lebih baik.
g. Penegak sudah mulai dikenalkan bagaimana
“learning by doing”; “Learning to earn”; “Learning to serve”.
h. Untuk mempertahankan satuan terpisah di
perkemahan sebaiknya Pembina menyerahkan tanggung-jawab kepada Pradana dan
Pemuka Sangga, namun harus tetap mengkontrolnya, dengan tetap member
kepercayaan.
i. Cara memberikan kritik dengan cara
atau etika PIN, kepada Penegak diupayakan hanya sampai PI saja, yakni
sebutkan “Positif”-nya kelebihan-kelebihan atas program atau kegiatan yang
telah dilakukan – kemudian di “Interpretasikan” secara detail program atau
kegiatan tersebut secara rasional, biasanya Penegak sudah tahu kelemahannya.
Namun biala Penegak terpaksa belum tahu kelemahannya baru dikemukakan “Negatif”
nya.
j. Contoh kegiatan pendidikan bagi
Penegak dan Pandega yang paling lengkap adalah: Perkemahan
Wirakarya.
k. Pembina lebih banyak “tut wuri
handayani”.
8) Sifat dasar Pramuka Pandega
Adapun sifat-sifat dasar dari
Pramuka Pandega adalah sebagai berikut.
a. Sebagian besar sifat Penegak ada
pada Pandega.
b. Pandega lebih terkonsentrasi pada
kelompok dyadic atau triadic (kelompok duaan, atau tigaan). Jarang sekali
(hampir tidak pernah ada) mereka secara bersama-sama melakukan kegiatan
kemana-mana dalam jumlah 5 orang sampai 10 orang secara bersama-sama.
Oleh karena itu “Reka” itu dibentuk hanya bila mereka berada dalam minat yang
sama, untuk menggarap suatu proyek, sifatnya insidentil. Jumlahnya bisa berapa
saja sesuai dengan kebutuhan. Reka ini saat ini lebih banyak disebut dengan “sangga
kerja” (PP 231 tahun 2007).
c. Dalam berhubungan dengan lain
jenis, Pandega tidak seagresif Penegak, tetapi lebih terbuka dibandingkan
dengan Penegak.
d. Untuk mempertahankan satuan terpisah di
perkemahan Pembina cukup menyerahkan tanggung-jawab kepada Pradana dan
penyadaran umum dalam apel pagi, atau apel malam menjelang tidur. Biasanya
mereka sudah saling mengkontrol, tapi sering terjadi kalau ada penyimpangan di
antara mereka saling melindungi – pada norma atau nilai yang dianggap sebagai
nilai baru.
9) Cara membina Pramuka Pandega.
Adapun cara membina Pramuka Pandega adalah sebagai
berikut.
a. Cara yang paling baik dalam membina Pandega adalah tidak bersifat
menggurui, semua keputusan Racana baik yang menyangkut visi, misi, strategi, program
kerja, rencana kerja, ataupun rencana kegiatan latihan dilaksanakan secara
musyawarah, dan komitmen untuk patuh terhadap keputusan-keputusan yang telah
ditetapkan sungguhpun tadinya ia tidak menyepakati.
b. Pembina bertindak sebagai ”penghubung antar sistem”, artinya apabila ada
materi-materi latihan yang diinginkan oleh Pandega yang tidak dikuasai oleh
Pembinanya, maka Pembina mencari keluar (out sourcing), sungguhpun bisa
saja meminta kepada anggota Pandega untuk mencarinya sendiri, sekaligus bertindak
sebagai penghubung antar sistem
c. Evaluasi kegiatan dapat dilakukan secara bersama-sama antara Pembina dan
anggota Racana secara questioning.
d. Apabila kegiatan di Racana sudah mapan maka Pembina lebih banyak bertindak
sebagai motivator, mentor dan konsultan.
e. Pembina
90% bertindak “tut wuri handayani”
2.3 Peran, Tugas dan Tanggungjawab Pembina Pramuka
1) Peran Pembina Pramuka
a. Pembina Pramuka adalah anggota
dewasa yang langsung bergiat bersama peserta didik, membimbing, memberikan
dukungan dan fasilitas agar para peserta didik dapat bergiat dengan teman-teman
dalam satuannya dengan riang gembira, tekun, terjamin keselamatannya, sehingga
acara kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar dan menghasilkan
kepuasan batin pada semua peserta didik.
b. Dalam memberikan bimbingan dan
bantuan agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan sebagaimana yang
diharapkan, Pembina Pramuka menggunakan Prinsip Dasar Kepramukaan, Metode
Kepramukaan, Kiasan Dasar dan Sistem Among, sehingga lewat kegiatan yang
disajikan Pembina Pramuka dapat mendidikan sikap dan perilaku yang dilandasi
kematangan spiritual, pisik, intelektual, emosional dan sosial.
c. Pembina Pramuka hendaknya peka
terhadap kebutuhan peserta didiknya, menerima dan mau mengerti (acceptance-understanding)
terhadap kebutuhan peserta didik.
d. Pembina Pramuka sebagai pelaksana
kebijakan Gerakan Pramuka yang terdepan mengemban tugas untuk memberikan
pendidikan agar peserta didik menjadi:
(1) Manusia berkepribadian, berwatak, dan berbudi pekerti luhur,
(1) Manusia berkepribadian, berwatak, dan berbudi pekerti luhur,
(2) Warga negara Rebuplik Indonesia yang
berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara kesatuan rebuplik Indonesia
serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna
2) Tugas
Pembina Pramuka
Adapun tugas Pembina Pramuka adalah sebagai berikut.
a. Pembina Pramuka
mempunyai tugas membina pramuka dengan menggunakan Prinsip Dasar Kepramukaan,
Metode Kepramukaan, dan Sistem Among, dan berkewajiban selalu memperhatikan
tiga pilar kegiatan kepramukaan, ialah: kegiatan kepramukaan harus modern
(kekinian, baru, tidak ketinggalan jaman), bermanfaat bagi peserta didik dan
masyarakat lingkungannya, dan adanya ketaatan pada Kode Kehormatan Pramuka.
b. Pembina Pramuka
bertugas dengan sukarela menepatkan posisinya sebagai mitra peserta didik untuk
dapat memfungsikan diri peserta didik sebagai subyek pendidikan, karena pada
hakekatnya kepramukaan adalah pendidikan sepanjang hayat dan oleh karena itu
peserta didik harus disiapkan sejak dini bahwa merekalah yang akan mendidik
diri
mereka sendiri. Sebagai mitra peserta didik Pembina Pramuka
bertugas untuk selalu member motivasi, stimulasi, bimbingan, bantuan, dan
menyediakan fasilitas kegiatan.
c. Pembina Pramuka
berkewajiban membantu Gugusdepan dalam rangka pelaksanaan
kerjasama dan hubungan timbal balik antara Gerakan Pramuka dengan orang
tua/wali pramuka dan masyarakat.
3) Tanggung
jawab Pembina Pramuka
Dalam melaksanakan peran dan tugasnya, tanggung jawab
Pembina Pramuka ialah sebagai berikut.
a. Terselenggaranya kepramukaan pada
satuan pramuka ialah sebagai berikut.
b. Tetap terjaganya pelaksanaan
Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan pada semua kegiatan pramuka
c. Terselenggaranya kepramukaan yang
teratur dan terarah sesuai dengan visi dan misi Gerakan Pramuka , akan menjadi
media pembinaan pengembangan mental-spiritual-moral, pisik, intelektual,
emosional, dan sosial, sehingga peserta didik akan memiliki kematangan dalam
upaya peningkatan kemandiriannya serta aktivitasnya di masyarakat.
d. Terwujudnya peserta didik yang
berkepribadian, berwatak, berbudi pekerti luhur, dan sebagai warga negara
Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, yang setia dan patuh kepada Negara
Kesatuan Republik Indonesia, serta menjadi anggota masyarakat yang baik
berguna.
e. Alam melaksanakan tugasnya Pembina
Pramuka bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, Masyarakat, Pembina Gugus
depan dan diri pribadinya sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Adapun kesimpulan dari
pembahasan diatas adalah sebagai berikut.
1) Sistem Among adalah sistem pendidikan
yang dilaksanakan dengan cara memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk
dapat bergerak dan bertindak dengan leluasa, dengan sejauh mungkin
menghidari unsur-unsur perintah keharusan, paksaan , dengan maksud untuk
menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas dan aktivitas
sesuai dengan aspirasi peserta didik.
2) Sistem Among mewajibkan Pembina
Pramuka melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut.
a. "Ing ngarso sung
tulodo", maksudnya di depan menjadi teladan, Prinsip ini ditunjukkan untuk
membina Pramuka Siaga.
b. "Ing madya mangun
korso", maksudnya di tengah-tengah mereka Pembina membangun kemauan,
ditunjukkan untuk membina pramuka penggalang.
c. "Tut wuri
handayani", maksudnya dari belakang Pembina memberi daya/kekuatan
atau dorongan dan pengaruh yang baik kearah kemandirian,ditunjkkan untuk
Pramuka Penegak dan Pandega.
3) Peran,Tugas dan Tanggungjawab Pembina
Pramuka merupakan satu kesatuan yang terkait satu sama lain. Seorang Pembina
Pramuka berperan sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi peserta didiknya.Pembina
Pramuka bertugas untuk menyalurkan ilmu kepramukaan itu sesuai dengan Sistem
Among dan tiga pilar kepramukaan. Pembina Pramuka bertanggungjawab untuk
membantu pesera didiknya mewujudkan visi dan misi gerakan pramuka.
3.2 Saran
Adapun yang disarankan dari pembahasan diatas adalah sebagai
berikut.
1) Kepada para Pembina Pramuka, agar
lebih memperhatikan tata cara membina pramuka yang baik dan efektif.
2) Kepada para pelajar, agar tidak
mengacukan kegiatan kepramukaan mengingat kegiatan ini sangat bermanfaat dan
menyenangkan.
3) Kepada pemerintah, agar selalu
menggalakan kegiatan kepramukaan, agar tidak punah digerus zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar